Selasa, April 14, 2015

Apakah Duri Dalam Daging Paulus itu? | 2 Kor 12:7

Apakah Duri itu? Apakah Duri di dalam daging yang Paulus maksudkan? Kita sering membaca ayat ini, dan selama ini mungkin Anda terbiasa diajarkan bahwa yang dimaksud dengan Duri di dalam daging adalah penyakit jasmani Paulus. Membuktikan bahwa Paulus pun diizinkan Tuhan untuk memiliki penyakit di dalam tubuhnya agar dia tidak sombong. Tetapi benarkah Duri Dalam Daging yang dimaksud adalah penyakit?



Ada beberapa penafsiran yang dimunculkan oleh para ahli teologi. Beberapa penafsiran itu antara lain menyatakan bahwa Duri dalam daging tersebut adalah:
  1. Dosa seksual (Onani).
  2. Gagap atau tidak pandai berbicara / berkotbah / mengajar.
  3. Penyakit mata atau mungkin juga Penyakit borok / koreng.
Perhatikan penjelasan berikut:

1. Dosa Seksual (Onani)
Pada abad pertengahan, banyak orang kristen yang berpikir bahwa Duri di dalam daging yang Paulus maksud adalah kelemahan rohani Paulus. Bahwa Paulus sebenarnya masih terkadang-kadang jatuh ke dalam dosa seksual. Hal ini wajar karena para pakar seks dan juga psikolog mengatakan bahwa manusia itu memang memiliki kebutuhan akan seks.

Menurut seksologis, pada normalnya pria itu memproduksi sperma setiap hari, dan untuk beberapa lama sperma itu harus dikeluarkan. Proses mengeluarkan sperma ini bisa melalui hubungan suami istri, tetapi untuk yang tidak memiliki pasangan bisa juga terjadi secara disengaja ataupun tidak disengaja. Untuk yang disengaja misalnya saja melalui onani, dan untuk yang tidak disengaja melalui mimpi basah. Mimpi basah adalah proses pria mengeluarkan sperma tanpa dia sadari saat dia tertidur.

Hal yang aneh dengan onani adalah, onani merupakan perbuatan dosa yang biasanya muncul tiba-tiba tanpa direncanakan, tiba-tiba ingin melakukan begitu saja, tetapi begitu selesai melakukan, maka akan timbul penyesalan yang luar biasa. Rasa bersalah atau rasa berdosa disertai rasa jijik yang amat sangat terhadap diri sendiri itu begitu besar sehingga saking besarnya sering membuat orang itu sendiri menjadi tidak berani lagi untuk berdoa kepada Tuhan untuk beberapa lama, merasa diri tidak layak dan merasa diri sangat menjijikkan di mata Tuhan. (Padahal Tuhan sendiri tidak memandang kita dengan jijik. Tuhan justru memandang kita dengan penuh belas kasih, mengharap kita seperti ayah yang mengharapkan anaknya yang terhilang untuk pulang. Tetapi iblis suka menipu pikiran anak Tuhan dengan intimidasi rasa berdosa)

Keadaan itulah yang membuat banyak orang di abad pertengahan yang berpikir bahwa duri di dalam daging Paulus adalah dosa seks. Karena Paulus tidak menikah, maka mungkin Paulus masih kadang jatuh ke dalam dosa onani. Dan rasa bersalah yang sangat besar yang timbul setelah usai onani itulah yang mencegah Paulus untuk menjadi sombong. Benarkah demikian?

Saya pikir tidak. Keinginan untuk onani memang sering timbul secara tiba-tiba tanpa direncanakan. Tetapi keinginan untuk onani juga tidak serta merta timbul begitu saja tanpa ada sebab. Keinginan onani biasanya timbul misalnya karena tanpa sengaja kita melihat sesuatu yang bisa menimbulkan gairah. Contohnya adalah Daud setelah mengintip Batsyeba mandi. Saya yakin bahwa Daud tidak pernah merencanakan untuk berselingkuh dengan Batsyeba, tetapi setelah Daud melihat Batsyeba telanjang itulah, maka tiba-tiba timbul keinginan untuk melakukan dosa seksual.

Itu adalah kasus Daud, bagaimana dengan Paulus? Paulus jika kita teliti membaca surat-surat beliau, maka bisa kita lihat kesibukan yang luar biasa dari seorang Paulus. Paulus benar-benar mendedikasikan waktu hidupnya untuk pelayanan. Bahkan sampai di dalam penjara pun Paulus tidak berhenti-berhenti untuk melayani Tuhan. Apalagi kita tahu bahwa selain melayani, Paulus juga berbisnis penyewaan tenda, ini tentu semakin menguras waktu dan tenaga Paulus (Kis 18:3) Sehingga dengan demikian, saya rasa Paulus tidak memiliki kesempatan untuk mencemari matanya dengan "mengintip Batsyeba mandi".

Selain itu juga dari seluruh surat-surat Paulus, bukankah kita bisa mengenal bahwa Paulus adalah seorang yang benar-benar intim dengan Tuhan? Benar-benar mati hidupnya dia gunakan untuk melayani Tuhan? Rasanya tidak mungkin jika Paulus melakukan dosa tersebut.

2. Gagap / Tidak pandai berbicara/ Berkotbah / Mengajar.
Ada juga yang berpendapat bahwa Duri dalam daging yang Paulus maksudkan adalah ketidak-mampuan atau kurang cakapnya Paulus di dalam berkotbah. Pemikiran ini berdasarkan pada 2 Kor 10:10 dimana Paulus berkata bahwa ada orang-orang yang berpikiran tentang Paulus yang mengatakan bahwa surat-surat Paulus tegas dan keras, tetapi ketika berhadapan muka, Paulus lemah dan perkatan-perkataannya tidak berarti.

Memang ada tipe-tipe orang yang seperti ini. Saya sendiri secara pribadi mengakui bahwa saya masih kurang pandai untuk berkotbah atau mengajar di depan orang banyak. Saya berbicara tidak selancar seperti saat saya menulis. Saya bisa menulis tanpa henti tanpa harus berpikir keras dan mengalir begitu saja sangat lancar, tetapi tidak demikian jika harus berbicara di depan umum.

Nah orang-orang pun ada yang berpikir bahwa Paulus pun demikian. Duri dalam daging yang dimaksud Paulus adalah kelemahan Paulus di dalam berbicara sehingga terlihat memalukan di mata orang-orang yang mendengarkan. Benarkah ini?

Saya pikir tidak juga demikian. Kita tahu bahwa Paulus adalah mantan seorang pembunuh sebelum bertobat. Paulus adalah seorang perwira yang memiliki pangkat sebelumnya. Seorang tentara yang memburu orang-orang kristen untuk dia aniaya. Apakah orang yang demikian akan gugup kalau berbicara di depan umum? Saya rasa tidak. Dari penjelasan ini pun sebenarnya sudah cukup. Tetapi jika dirasa masih kurang, maka saya akan berkata bahwa saya lebih percara kepada perkataan Paulus sendiri di ayat selanjutnya yaitu ayat 11 yang mengatakan bahwa tindakan Paulus saat berhadapan muka maupun dalam surat-surat yang dia tulis adalah sama. Tidak ada perbedaan. Saya yakin Paulus adalah orang yang sangat tegas. Bukankah Paulus sendiri pernah menegor Petrus secara langsung? Bahkan Paulus berani berbeda pendapat dengan Barnabas gurunya. Ini membuktikan bahwa Paulus adalah orang yang sangat tegas baik dalam surat maupun dalam perkataan.

3. Penyakit mata atau penyakit borok/koreng.
Ini adalah tafsiran yang paling saya setujui. Ada beberapa perkataan Paulus sendiri yang menunjukkan bahwa duri itu adalah penyakit badani yang Paulus tanggung.

Perhatikan ayat-ayat berikut:
Galatia 4:13 menunjukkan bahwa Paulus memiliki penyakit di dalam tubuhnya. Disini membuktikan bahwa Paulus sendiripun, sekalipun dipakai luar biasa oleh Tuhan dengan begitu banyak karunia kesembuhan, bahkan sapu tangan Paulus pun Tuhan pakai untuk menyembuhkan orang, tetapi terbukti bahwa Paulus sendiripun bisa sakit badani.

Galatia 4:14 menunjukkan bahwa penyakit yang Paulus derita itu terlihat sangat menjijikkan dan hina. Walaupun bersyukur jemaat tidak memandang penyakit itu sebagai sebuah hal yang menjijikkan atau hina. Tetapi terbukti bahwa penyakit itu terlihat oleh mata dan terlihat menjijikkan atau hina. Penyakit apakah yang terlihat menjijikan dan hina?

Saat itu di Israel, Penyakit kusta adalah penyakit yang hina karena membuat orang tersebut dianggap najis, sehingga harus dikucilkan. Tetapi apakah Paulus menderita kusta? Saya rasa tidak. Kenyataan bahwa Paulus tidak diasingkan membuktikan bahwa penyakit tersebut bukanlah kusta.

Galatia 6:17 menunjukkan bahwa Paulus memiliki tanda-tanda milik Yesus. Tanda-tanda apakah itu? Tanda-tanda apa yang terlihat di tubuhnya yang terlihat menjijikkan?

Borok atau Koreng adalah salah satu kemungkinan yang terbesar. Di dalam 2 Kor 11:24 mengatakan bahwa Paulus disesah sampai 5 kali. Masing-masing sebanyak 39 pukulan. Disesah artinya dicambuk. Pernahkah Anda menonton film 12 Years a Slave? Di dalam film itu ditunjukkan secara mendetail akibat jika dihukum cambuk. Luka cambukan itu akan menjadi koreng yang sangat menyakitkan dan sekaligus menjijikkan. Dan tanda inilah juga yang dimiliki oleh Yesus karena Yesus pun dicambuk sebelum disalibkan. Walaupun cambuk yang dipakai untuk mencambuk Paulus pasti berbeda dengan cambuk duri yang digunakan untuk mencambuk Yesus.

Selain pernah disesah, Paulus juga pernah diamuk massa. Dipukuli oleh orang banyak karena melayani Tuhan. (Kis 21:32) Ini sudah pasti menimbulkan bekas luka. Sehingga semakin masuk akal bahwa Duri yang dimaksud Paulus adalah penyakit tubuh.

Ada juga penafsir yang berkata bahwa kemungkinan penyakit Paulus adalah berhubungan dengan mata. Bisa jadi gara-gara Paulus melihat cahaya Tuhan yang sangat terang yang sampai membuat ia buta sementara saat baru bertobat. Mungkin mata Paulus rabun atau tidak jelas melihat.  Ini berdasarkan pada Galatia 6:11 bahwa surat-surat Paulus ditulis dengan huruf yang besar-besar. Ini memungkinkan bahwa Paulus memiliki penyakit mata. Walaupun menurut saya itu tidak memalukan, tetapi mungkin bagi Paulus saat itu yang memiliki karunia kesembuhan, dirinya sendiri sakit mata itu merupakan hal yang memalukan.

Apapun arti Duri Dalam Daging Paulus ini, tidak ada satupun yang bisa memastikan karena Paulus tidak secara jelas menjelaskan apakah Duri itu. Tetapi Hal ini juga sekaligus mengajarkan kepada kita semua untuk tidak terfokus kepada harafiahnya. Untuk tidak melihat yang telihat oleh mata. Tetapi lebih dari itu adalah, untuk belajar apa respon Paulus saat Paulus meminta kepada Tuhan sampai 3 kali tetapi Tuhan tidak kabulkan? (2 Kor 12:7)

Bayangkan Paulus sendiri pun berdoa untuk Duri-nya dan Tuhan jawab TIDAK. (2 Kor 12:8)

Apakah Paulus kekurangan Iman sehingga tidak bisa mengusir Duri itu? TIDAK.
Apakah Paulus marah doanya di jawab Tidak oleh Tuhan? TIDAK.
Apakah Paulus menjadi lemah dan tidak bersemangat melayani Tuhan? TIDAK.

Paulus justru lebih memilih untuk bermegah dalam kelemahannya (2 Kor 12:10) Paulus lebih memilih untuk bersyukur dan dengan senang dan rela hati menerima Duri itu.

Inilah yang harus menjadi fokus utama kita. Jangan terfokus pada DURI-nya. Jangan terfokus kepada masalah atau beban yang harus kita hadapi. Tetapi fokuslah pada respon yang harus kita ambil. Bagaimana kita meresponi masalah kita? Apakah kita akan mundur dari pelayanan? Apakah kita akan marah kepada Tuhan? Atau apakah kita justru akan bermegah di dalam kelemahan kita, di dalam penderitaan kita, dengan penuh kerelaan hati kita menanggung beban itu dan tetap melayani Tuhan?

Apa pilihanmu? 

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar